Perempuan dan Alam: Kartini-Kartini 'Kecil' dari Bogor yang Bergerak di Bidang Lingkungan

Jauh dari sekadar mengenang sosok R.A. Kartini, semangatnya juga hidup dalam tindakan nyata perempuan masa kini, termasuk di Bogor. Kota hujan ini bukan hanya rumah bagi Kebun Raya atau kampus IPB, tetapi juga tempat tumbuhnya banyak perempuan yang memilih berjuang untuk bumi, tanaman, dan masa depan lingkungan.

Sumber: Alumniipbpedia.id


1. Emmy Hafild – Pejuang Hutan dan Aktivis Lingkungan Internasional

Meskipun dikenal secara nasional dan internasional, tidak banyak yang tahu bahwa Emmy Hafild punya ikatan kuat dengan Bogor. Lulusan IPB ini merupakan tokoh penting di balik berbagai advokasi penyelamatan hutan Indonesia sejak era 1990-an. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif WALHI dan terus konsisten dalam isu konservasi hingga kini. Sosoknya membuktikan bahwa perempuan bisa bersuara lantang untuk bumi, bahkan dari tengah rimbunnya pepohonan Bogor.

2. Kampung Kita – Inisiatif Perempuan dalam Urban Farming

Di wilayah Cibuluh, Bogor Utara, sekelompok ibu-ibu rumah tangga mengubah lahan tidur menjadi kebun pangan produktif. Lewat program urban farming yang mereka kelola secara swadaya, mereka menanam sayur organik, mengelola sampah rumah tangga, dan bahkan mengadakan kelas edukasi lingkungan untuk anak-anak. Mereka mungkin tidak terkenal, tapi mereka adalah “Kartini lokal” yang merawat bumi dari hal-hal kecil di sekitar rumah.

3. Fitriani, Pendiri Komunitas Bank Sampah Melati Bersih

Di daerah Tanah Sareal, Fitriani memulai gerakan bank sampah dari nol bersama tetangga-tetangganya. Kini, komunitasnya sudah punya puluhan anggota dan berhasil mengolah sampah plastik menjadi barang daur ulang bernilai jual. Tak hanya itu, ia juga rutin memberi penyuluhan ke sekolah dan RT sekitar tentang pentingnya pengelolaan sampah. Semangatnya membuktikan bahwa lingkungan bisa dijaga dari dapur dan halaman rumah.

4. Mahasiswi IPB dan Inovasi Ramah Lingkungan

Bogor sebagai kota pendidikan juga melahirkan banyak inovasi ramah lingkungan dari tangan perempuan muda. Contohnya, Nurul Azizah, mahasiswi IPB yang meneliti pemanfaatan limbah ampas kopi sebagai pengusir nyamuk alami. Inovasi ini bukan hanya menarik secara ilmiah, tapi juga berpotensi dikembangkan sebagai usaha kecil yang memberdayakan masyarakat.

Jika Kartini dulu memperjuangkan hak perempuan untuk berpikir, belajar, dan bersuara, maka para perempuan Bogor ini menunjukkan bentuk nyatanya di era kini. Mereka mungkin tidak tampil di layar televisi, tapi kiprah mereka menumbuhkan harapan—bahwa bumi bisa diselamatkan oleh tangan-tangan yang sabar merawatnya.

Di bulan Kartini ini, mari kita rayakan bukan hanya sosok Kartini dari Jepara, tapi juga para Kartini dari Bogor yang mencintai alam dan mewariskan semangat perubahan, satu tanaman dan satu ide di satu waktu.

 

Komentar