Jejak Emansipasi di Kota Hujan: Sekolah Perempuan dan Pergerakan Perempuan di Bogor Zaman Dulu

Setiap kali kita menyebut nama R.A. Kartini, pikiran kita langsung tertuju pada kota Jepara atau Batavia, tempat ia menyuarakan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Namun siapa sangka, semangat yang ia nyalakan juga sempat menyentuh Bogor, kota sejuk di kaki Gunung Salak yang pernah jadi tempat penting dalam berbagai dinamika pergerakan perempuan zaman kolonial.

Sumber: Wikipedia


Sebagai kota peristirahatan sejak zaman Hindia Belanda, Bogor atau dulu disebut Buitenzorg, bukan hanya jadi tempat tinggal para pejabat kolonial, tapi juga jadi ruang bertemunya para cendekiawan dan pemikir. Dalam lingkungan yang relatif lebih terbuka, muncul pula gagasan-gagasan progresif, termasuk mengenai pendidikan perempuan.

Catatan sejarah menyebutkan bahwa pada awal abad ke-20, pemenrintah kolonial mulai membuka sekolah-sekolah khusus perempuan, termasuk di Bogor. Sekolah ini umumnya disebut Meisjes School, dan ditujukan untuk anak-anak perempuan pribumi dari kalangan elite. Kurikulumnya memang masih terbatas pada keterampilan rumah tangga dan tata krama Eropa, namun ini menjadi awal dari akses pendidikan bagi perempuan di masa itu.

Salah satu sekolah perempuan yang dikenal berdiri di Bogor pada era 1910-an adalah cabang dari Sekolah Kartini—nama yang dipakai untuk menyebut sekolah-sekolah yang dibuka atas dorongan R.A. Kartini dan adiknya, Rukmini. Walaupun belum ditemukan catatan resmi yang menyebutkan “Sekolah Kartini” berdiri di Bogor seperti di kota-kota lain (Jepara, Semarang, Surabaya), namun Bogor menjadi tempat berkembangnya kepramukaan putri dan kursus perempuan sejak masa Hindia Belanda.

Masuk ke era kemerdekaan, Bogor tetap mempertahankan posisinya sebagai kota yang banyak melahirkan pemikir dan akademisi, terutama setelah berdirinya Institut Pertanian Bogor (IPB). Sejak awal berdirinya, IPB telah membuka pintu lebar bagi mahasiswa perempuan, bahkan mendorong banyak dari mereka untuk terjun ke bidang pertanian, kehutanan, dan pangan—bidang yang pada masa lalu sering dianggap sebagai ‘dunia laki-laki’.

Nama-nama seperti Prof. Dr. Ani Andayani (ahli gizi dan pangan), atau Prof. Damayanti Buchori (entomolog dan pejuang agroekologi) lahir dari semangat intelektual ini. Mereka menjadi simbol keberlanjutan semangat Kartini dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Kini, semangat emansipasi di Bogor diteruskan dalam bentuk yang lebih beragam. Mulai dari komunitas pemberdayaan ibu rumah tangga, organisasi literasi untuk perempuan muda, hingga penggerak lingkungan yang mayoritas anggotanya perempuan. Dari taman kota hingga kampus, jejak Kartini seakan hidup dalam bentuk yang baru—lebih berani, lebih luas, dan lebih membumi.

Meskipun Bogor bukan tempat kelahiran Kartini, kota ini ikut membentuk perjalanan panjang emansipasi perempuan Indonesia. Lewat sekolah, kampus, hingga gerakan sosial modern, semangat Kartini masih terasa—hidup dalam kerja-kerja senyap para perempuan di Kota Hujan. Maka, saat kita mengenang Hari Kartini, tak ada salahnya juga menengok kembali bagaimana kota ini turut mewariskan semangat perubahan.

 

Komentar