Setiap kali kita menyebut nama R.A. Kartini, pikiran kita langsung tertuju pada kota Jepara atau Batavia, tempat ia menyuarakan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Namun siapa sangka, semangat yang ia nyalakan juga sempat menyentuh Bogor, kota sejuk di kaki Gunung Salak yang pernah jadi tempat penting dalam berbagai dinamika pergerakan perempuan zaman kolonial.
Sebagai
kota peristirahatan sejak zaman Hindia Belanda, Bogor atau dulu disebut Buitenzorg,
bukan hanya jadi tempat tinggal para pejabat kolonial, tapi juga jadi ruang
bertemunya para cendekiawan dan pemikir. Dalam lingkungan yang relatif lebih
terbuka, muncul pula gagasan-gagasan progresif, termasuk mengenai pendidikan
perempuan.
Catatan
sejarah menyebutkan bahwa pada awal abad ke-20, pemenrintah kolonial mulai
membuka sekolah-sekolah khusus perempuan, termasuk di Bogor. Sekolah ini
umumnya disebut Meisjes School, dan ditujukan untuk anak-anak perempuan pribumi
dari kalangan elite. Kurikulumnya memang masih terbatas pada keterampilan rumah
tangga dan tata krama Eropa, namun ini menjadi awal dari akses pendidikan bagi
perempuan di masa itu.
Salah satu
sekolah perempuan yang dikenal berdiri di Bogor pada era 1910-an adalah cabang
dari Sekolah Kartini—nama yang dipakai untuk menyebut sekolah-sekolah yang
dibuka atas dorongan R.A. Kartini dan adiknya, Rukmini. Walaupun belum
ditemukan catatan resmi yang menyebutkan “Sekolah Kartini” berdiri di Bogor
seperti di kota-kota lain (Jepara, Semarang, Surabaya), namun Bogor menjadi
tempat berkembangnya kepramukaan putri dan kursus perempuan sejak masa Hindia
Belanda.
Masuk ke
era kemerdekaan, Bogor tetap mempertahankan posisinya sebagai kota yang banyak
melahirkan pemikir dan akademisi, terutama setelah berdirinya Institut
Pertanian Bogor (IPB). Sejak awal berdirinya, IPB telah membuka pintu lebar
bagi mahasiswa perempuan, bahkan mendorong banyak dari mereka untuk terjun ke
bidang pertanian, kehutanan, dan pangan—bidang yang pada masa lalu sering
dianggap sebagai ‘dunia laki-laki’.
Nama-nama
seperti Prof. Dr. Ani Andayani (ahli gizi dan pangan), atau Prof. Damayanti
Buchori (entomolog dan pejuang agroekologi) lahir dari semangat intelektual
ini. Mereka menjadi simbol keberlanjutan semangat Kartini dalam dunia
pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Kini,
semangat emansipasi di Bogor diteruskan dalam bentuk yang lebih beragam. Mulai
dari komunitas pemberdayaan ibu rumah tangga, organisasi literasi untuk
perempuan muda, hingga penggerak lingkungan yang mayoritas anggotanya
perempuan. Dari taman kota hingga kampus, jejak Kartini seakan hidup dalam
bentuk yang baru—lebih berani, lebih luas, dan lebih membumi.
Meskipun
Bogor bukan tempat kelahiran Kartini, kota ini ikut membentuk perjalanan
panjang emansipasi perempuan Indonesia. Lewat sekolah, kampus, hingga gerakan
sosial modern, semangat Kartini masih terasa—hidup dalam kerja-kerja senyap
para perempuan di Kota Hujan. Maka, saat kita mengenang Hari Kartini, tak ada
salahnya juga menengok kembali bagaimana kota ini turut mewariskan semangat
perubahan.

Komentar
Posting Komentar