Jajanan Manis Perempuan Hebat: UMKM Kuliner Bogor yang Dimotori Para Kartini Modern

Di balik camilan manis dan makanan kekinian yang beredar di media sosial, ada tangan-tangan kuat yang bekerja tanpa henti. Banyak di antaranya adalah perempuan—ibu rumah tangga, anak muda, hingga mantan karyawan yang memutuskan untuk berwirausaha dari dapur mereka sendiri. Di Bogor, usaha kuliner bukan cuma soal jualan makanan, tapi juga gerakan kecil untuk berdiri mandiri. Inilah para Kartini modern dari Kota Hujan, yang menyuarakan perjuangan lewat rasa.

Sumber: @masak_lasak


1. "Kue Jadul Mak Inah" – Lestari di Tengah Tren

Di Pasar Gunung Batu, ada satu kios kecil yang tak pernah sepi: Kue Jadul Mak Inah. Kue talam, nagasari, dan lapis legit yang dijual di sini dibuat oleh Ibu Inah dan dua anak perempuannya sejak 2008. Dengan resep warisan neneknya, mereka menjaga rasa autentik jajanan pasar Bogor. Kini, meskipun bisnis kue kekinian menjamur, pelanggan tetap datang karena keaslian rasa dan keramahan pelayanan mereka. Bagi Ibu Inah, "mempertahankan resep adalah bentuk cinta pada tradisi."

2. "Sambal Si Mbok" – Rasa Pedas, Perjuangan Hangat

Sambal dalam toples mungil ini berawal dari kebutuhan seorang ibu muda, Rani (32), untuk menambah penghasilan keluarga. Dengan modal Rp200 ribu, ia mulai menjual sambal goreng teri, sambal bawang, dan sambal matah khas Bogor ke grup WhatsApp tetangga. Kini, “Sambal Si Mbok” sudah punya pelanggan tetap sampai Depok dan Jakarta. Produk ini bukan hanya soal pedas, tapi juga cerita perjuangan perempuan yang memilih bertahan dan bangkit lewat dapur.

3. "Puding Kartini" – Camilan Cantik dari Tangan Mahasiswi

Dibuat dengan warna-warna pastel dan topping buah segar, puding kreasi Laras, mahasiswi IPB jurusan Teknologi Pangan, menjadi viral di Instagram. Ia menamakan produknya Puding Kartini sebagai bentuk penghormatan untuk para perempuan pekerja keras. Produknya tak hanya menarik secara visual, tapi juga sehat dan rendah gula, menyasar pasar anak-anak dan lansia. “Kartini itu bukan hanya sosok dari masa lalu, tapi juga semangat untuk terus belajar dan berbagi,” kata Laras.

4. "Dapur Tiga Dara" – Kolaborasi Keluarga yang Solid

Di Cibinong, tiga perempuan bersaudara mendirikan bisnis Dapur Tiga Dara, yang fokus menjual nasi box rumahan untuk acara kantor dan sekolah. Menunya sederhana—ayam kremes, sambal tomat, sayur asem—tapi dibuat dari bahan segar dan dikemas rapi. Mereka membagi tugas: si bungsu mengurus media sosial, kakaknya di dapur, dan sang ibu jadi manajer keuangan. Dalam setahun, usaha ini tumbuh pesat, berkat sinergi antarperempuan dalam satu rumah.

Melalui usaha kecil, para perempuan Bogor membuktikan bahwa dapur bukan hanya tempat memasak, tapi juga ruang berkreasi, menghasilkan, dan memberdayakan. Di tangan mereka, resep turun-temurun bisa menjadi sumber penghidupan. Di balik sebotol sambal, seporsi nasi, atau sepotong puding, ada kisah tentang ketekunan, adaptasi, dan cinta pada keluarga.

Kartini mungkin tak lagi mengenakan kebaya dan menulis surat panjang, tapi semangatnya hidup dalam kemasan plastik, loyang kukusan, dan postingan promosi di Instagram. Perjuangan itu terus berjalan—dan kini terasa manis rasanya.

 

Komentar